Barcelona, setelah empat tahun berada dalam kejayaan, mengalami masa
krisis. Penampilan mereka jauh dari kata baik. Dan seakan, seluruh tim besar di dunia memiliki ‘formula anti Barca’. Bermain bertahan, menyusun serangan balik cepat, sudah cukup membuat lawan-lawan Lionel Messi dkk. menyabet kemenangan dari mereka. Sebenarnya ada apa dengan Barcelona?
Tiga tahun pertama di tangan Pep Guardiola, tiki-taka ‘menghabisi’
semua lawan. Tak pandang bulu, mulai dari tim gurem seperti Real Betis
hingga Real Madrid pernah
dihajar dengan skor 5-0. Namun, sejak April musim lalu, ketika Chelsea
dan Real Madrid mengakhiri perjalanan Barca pada bulan April 2012 (di
Liga Champion dan Liga Spanyol), Barcelona mulai terlihat kedodoran. Dan
Februari ini, awan mendung yang lebih kelam, menyelimuti Camp Nou.
Penyegaran bukannya tidak dilakukan. Setelah Pep Guardiola tak
memperpanjang kontrak, Tito Vilanova memegang kendali. Di bawah asuhan
Tito, keadaan membaik. Barcelona menjadi
tim yang lebih subur dan lebih mampu membalikkan keadaan. JIka selama
dilatih Pep —terutama di tahun terakhir— ada kalanya Barca buntu dan tak
bisa mengembangkan permainan, ketika Tito menjadi arsitek utama,
permainan kubu Camp Nou lebih cair. Seringkali, pergantian pemain yang
dilakukan Vilanova, membuat kemacetan berubah menjadi kemenangan.
Namun, kini tiba saat-saat fatal. Kala Tito tak lagi memegang kendali, Barcelona
cenderung statis. Keterlambatan pergantian pemain (sekaligus kesalahan
dalam memasukkan orang yang tak bisa mengubah jalannya laga), tidak
adanya perhatian terhadap detail terkecil di lapangan, kehilangan
konsentrasi, tak adanya pemain yang memiliki akurasi tembakan dari luar
kotak penalti, dipadu dengan matinya tim ketika Xavi Hernandez dan
Lionel Messi ‘dihilangkan’ lawan.
Seakan, tidak butuh cara ampuh bagi lawan Barcelona.
Selama mereka adalah tim dengan kualitas pemain tinggi, cukup memarkir
bus di depan gawang, selesailah perkara. Logikanya, untuk apa mencari
mati dengan membiarkan para pemain klub Catalan bertik-tak tik-tak di
kotak penalti? Halangi mereka sebelum seperempat terakhir lapangan, dan
Barca akan tumpul.
Ada apa dengan Barcelona? Barangkali, kita akan berkata, “tidak ada
apa-apa, tapi lawan semakin berkembang dan semakin mengekspos kelemahan
klub Catalan, sementara alternatif belum ditemukan Barca.”
Minggu, 03 Maret 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar